(Arsip Tahun 2008) Analisis Puisi Secara Bangun Struktur dan Lapis Makna Di bawah ini merupakan puisi karya Joko Pinurbo; Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria magdalena Pariyem untuk Linus Raden Ajeng Kartini terbatuk-batuk Di bawah cahaya lampu remang-remang Demam mulai merambat ke leher Encok menyayat-nyayat punggung dan pinggang Dan angin pantai jepara yang kering Berjingkat pelan di alis yang tenang Di pelupuknya anak-anak kesunyian Ingin lelap berbaring, Ingin teduh dan tentram “Terimalah salam damaiku” Lewat angin laut yang kencang, dinda. Resah tengah kucoba Sepi kuasah dengan pena. Kaudengarkah suara gamelan Tak putus-putus dilantunkan Di pendapa agung yang dijaga Tiang-tiang perkasa Hanya untuk mengalunkan Tembang-tembang lara? Kaudengarkah juga Derap kereta di jauhan Datang melaju ke arah jantungku Kereta api hitam berderap membelah malam Melintasi hamparan kelabu perkebunan tebu Kesedihan diangkut ke pab...
Etem adalah sebutan bagi sebuah alat pertanian sejenis pisau yang berfungsi untuk memotong padi. Keberadaannya saat ini sudah mulai dilupakan kebanyakan orang, khususnya petani. “Aduh jaman ayeuna mah tos langki pisan mun ngala pare nganggo etem mah mun keur dibuat teh. Apanan ayeuna mah aya arit. Leuwih ringkes tur gampang tibatan ku etem” , begitu dipaparkan Abah Sulaeman. Penggunaan Etem memang jarang di masyarakat pertanian kita, khususnya di Tatar Sunda. Selain mulai sulit ditemukan, arit yang bentuknya menyerupai pisau lengkung berbentuk bulan sabit ini dinilai masyarakat sebagai alat yang lebih mudah digunakan untuk memotong padi ketimbang Etem. Hampir sama dengan Ani-ani di Jawa Tengah, Etem pun memiliki beberapa bagian yakni Pugut, Apan-apan, dan Pulung. Pugut atau biasa disebut peso etem adalah bagian yang tajam berbahan dasar baja yang tipis. Sedangkan Apan-apan atau daun Etem dibuat dari kayu dhadhap yang empuk tempat dipasangnya Pugut, dan yang terakhir adalah Pulun...
Kehadiran seni ronggeng gunung di masyarakat memang bukan hal baru. Namun, pesatnya kemajuan zaman dan globalisasi mengakibatkan arus tradisi budaya mendapatkan ruang gerak yang kurang luas di masyarakat. Ini pula yang menyebabkan kemunculan ronggeng gunung mulai jarang ditemukan, kecuali dalam tradisi dan upacara tertentu. Sebut saja, dalam hajat sunat (khitanan), perkawinan, sampai Upacara Seren Taun. Begitu mendengar kata Ronggeng, yang kita tahu adalah sebuah tarian yang selalu identik dengan hubungan antara penari ronggeng dan laki-laki. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa ronggeng merupakan tari tradisional dengan penari utama wanita, dilengkapi dengan selendang yang dikalungkan di leher sebagai kelengkapan menari. Selendang yang berfungsi sebagai kelengkapan menari juga memiliki kegunaan lain yaitu untuk menggaet penonton laki-laki untuk turut menari bersama penari ronggeng. Oleh karena itu, kemampuan penari ronggeng dalam memikat penonton laki-laki selalu berakh...
Komentar